Jumat, 12 November 2010

SI PEMABUK ITU BERTOBAT





Suka Suka : SI PEMABUK itu kini tampak sungguh-sungguh bertobat. Sarung hitam berlurik kotak-kotak melilit tubuhnya, piyama (kau menyebut baju koko) dan peci-semuanya berwarna putih mempermanis kehadirannya di mesjid ini.
Pada shaf ketiga di sudut kiri, ia bergeming. Pandangnya tak jalang, tatapnya tiada nyalang. Lurus ke bawah, persis pada sajadah di mana keningnya rebah saat sujud. Tak ada yang peduli pada si pemabuk itu-ia tampak kini sungguh-sungguh bertobat-yang setiap jamaah mesjid ini tahu padanya; mengenal siapa lelaki itu secara akrab seperti tahu pada diri sendiri. Si pemabuk itu terkenal amat karib berulah. Meski semua orang juga tahu kalau ia telah melunasi rukun kelima dari rukun Islam.
“Tapi sepulang dari Mekah bukan benar-benar tobat, tapi malah banyak bikin maksiat,” sindir jamah yang juga masuk dalam jalajan pengurus mesjid. Ia lalu menggelari si pemabuk itu sebagai tomat: pergi ke Mekah karena tobat dan pulang kembali maksiat. “Haji tomat. Mau pergi tobat, sepulang haji malah kumat,” sahut yang lain.
Si pemabuk itu acuh pada gunjingan tetangga, apatah lagi jemaah mesjid yang acap meliwati warung Ali tempat ia biasa nongkrong menenggak alkohol. Ia juga tetap bergeming meski terlalu sering orang yang bergunjing sampai ke telinganya. Ia berpikir, selagi ia tak meminta uang atau memeras orang lain, tak jadi soal benar gunjingan itu. Kata guru mengajinya waktu ia kecil masih selalu diingatnya dan tak akan pernah hilang dalam kenanganya: “Lebih baik pemabuk yang kemudian bertobat sehingga disebut bekas pemabuk, daripada bekas ustad karena tergelincir ke lubang maksiat.”
Guru mengajinya yang lain (maklum ia kerap berganti guru mengaji karena alasan bosan atau ingin banyak menimbu ilmu agama dari banyak guru) pernah bercerita lalu menyimpulkan: “Seorang pelacur akhirnya dimasukkan ke surga oleh Tuhan hanya karena ia telah menolong seekor anjing yang nyaris mati kehausan.”
Pada hari lain, guru mengaji yang lain lagi, juga bercerita di sela jeda anak-anak istirahat mengaji, bahwa pernah terjadi di zaman nabi seorang pembunuh yang telah membunuh 99orang lalu ia bertobat. Akan tetapi, sebelum ia sempat memasuki mesjid ia meninggal. Lalu malaikat menghitung jumlah langkah dari pertama kali ia berniat untuk bertobat dengan jarak mesjid. “Ternyata pembunuh itu lebih dekat pada mesjid saat Tuhan mengambil nyawanya. Jadi, Tuhan tak pernah alpa dan lalai mencatat setiap niat seseorang. Mereka itu mati dalam keadaan khusnul khotimah. Tahu artinya khusnul khotimah?” ustad mengajukan pertanyaan. Hanya si pemabuk yang tahu artinya dan menjawab: “Meninggal dalam keadaan (berbuat) baik, Ustad!”
Ustad mengangguk. Tersenyum. Sebatang lidi yang semula tegak dan siap mengelus kulit para santri kembali ditarik dan diletakkan di sebelah ustad. Semua santri riang-gembira. Tapi, para santri tak bisa mengerti, menginjak remaja sahabatnya itu lupa pada khalaqoh, tak pernah lagi membuka Alquran, enggan bersarung dan berpeci. Apalagi begitu ia merantau ke kota dan beristri perempuan kota, kemudian mengambil rumah di kompleks perumahan sangat sederhana (RSS). Mungkin karena acap bergaul dengan orang-orang kota ia pun sudah melupakan aroma kampung, tempat pengajian, bahkan juga surau yang memang sulit ditemui di kota besar.
“Kau sudah sangat lain sekarang,” tukas sohibnya di kampung dan bersama-sama belajar mengaji dengan ustad Mustofa Bisri. “Jangan-jangan di rumahmu sudah tak lagi menyimpan Alquran?”
“Ini kota besar, kawan!” ia menyela. “Kalau aku masih tinggal di kampung, sudah lama aku mati. Mungkin kau hanya ingat namaku, tapi tak pernah melihatku lagi. Aku akan mati kelaparan!”
“Apakah begitu, semua orang kota berpikiran seperti itu?” sohibnya berujar.
Ia diam. Kembali menenggak air alkohol dalam seteguk habis.
“Sudahlah, tak perlu berkhotbah. Kalau kau mau, silakan minum pula.”
“Kalau cuma minum, jangankan sebotol tapi sepeti pun aku bisa habiskan tanpa mabuk. Tapi apa untungnya bagiku?” tantang sohibnya, kemudian ingin beranjak. Tetapi, si pemabuk memegang kerah baju sohibnya itudari belakang. Ia hendak meninju wajah temannya, tapi rekannya semasa kecil lebih cepat memuntahkan tinjunya ke wajah si pemabuk hingga terhuyung. “Selamat menikmati perihmu itu, dan itu belum seberapa”
Ia tak dendam. Meski sejak itu ia tak lagi berjumpa sohibnya semaca kecil dan sama-sama berguru dengan ustad Mustofa Bisri, Haji Zawawi, dan Kiyai Kromo.
* * *
SI PEMABUK itu ternyata sudah berkali-kali menginap gratis di balik jeruji. Keluar masuk bui karena mabuk maupun digaruk saat berpesta dirumah bordil sudah jadi langganannya. Tetapi, ya tetapi, ia tak pernah jera. Apalagi kemudian ia berkawan dengan keponakannya yang wartawan-juga pemabuk-dan “menguasai” beberapa tempat hiburan malam, makin jauh saja ia pada kehidupan surau. Kehidupannya menjadi-jadi. Kacau. Ia memilih hidup menggelandang setiap malam daripada pulang menemui istrinya dan berpelukan. Hingga 20 tahun ia berumah tangga, belum juga dikuriania anak.
Itulah yang menyebabkan ia merasa kesepian jika tinggal di rumah. Hanya istrinya yang mulai tua dan tak lagi menarik wajahnya seperti saat ia sunting dulu yang menemaninya.. “Mungkin ia kecewa padarumah tangganya,” seloroh tetangga sebelah rumahnya.
“Ia bermabuk-mabuk karena ingin lari dari kenyataan!”
“Tapi itu salah, ia tak bisa bersembunyi dari realita!”
“Mungkin juga baginya itu yang membahagiakannya.”
“Cuma, cara seperti itu jelas semu.”
“Ya.” Yang lain mengangguk.
* * *
SI PEMABUK itu yang telah menenggelamkan nama sesungguhnya yakni Aulianuddin, kini membuat semua orang di kompleks perumahan itu terpengarah. Pada Ramadhan tahun ini ia sambangi mesjid setiap jelang Isya hingga usai tarawih. Bersarung hitam lurik kotak-kotak, berpiyama dan berpeci warna putih, tak ketinggalan pula sorban ala pejuang Palestin melilit lehernya hingga ke dada.
Ia tampak khusyuk. Tidak pernah berpaling ke kiri dan kanan, kecuali untuk mengucap salam setiap habis rakaat terakhir. Setelah itu ia kembali tenggelamkan wajahnya ke bawah, jemarinya bergerak bagai menari di antara biji-biji tasbih, bibirnya bergerak meski amat lambat. Ia pasti sedang berzikir. Menyebut asma-asma Allah. Usai tarawih, ia pun keluar mesjid tanpa menyapa siapa pun.
“Syukurlah kalau ia sudah bertobat.”
“Semoga ia khusnul khotimah.”
“Husts,” seseorang mengingatkan. “Pak Aulianuddin itu masih jauh bau tanah. Ia masih muda!”
“Aku tak mendoakan dia cepat mati.”
Si pemabuk itu bergeming pada bisik-bisik jamaah mesjid. Ia acuhkan semua gunjingan. Ia berpikir, ia tak mengganggu orang lain. Ke mesjid itu ia hanya ingin salat berjamaah, bukan mengemis atau merampas pahala jamaah lain. Ia hendak mengadu, selain mengenang masa anak-anak dikampung saat bulan Ramadhan ia habiskan waktu malamnya di surau: tarawih, tadarus, solat wajib, dan amal sunah lainnya.
“Kadang aku juga rindu suasana seperti di kampung dulu, apakah salah?” ia beralasan ketika Ali-pemilik warung rokok dan minuman alkohol di sudut gang-merasa heran ketika melihat perubahan dirinya. “Suatu ketika, entah kapan, kau pun akan mengalami hal yang sama.Apakah kau salah?”
“Tidak juga.”
“Karena itu, apa yang kulakukan ini benar kan?”
“Benar. Sangat benar,” cetus Ali. “Hanya saja, abang cepat sekali berubah. Itulah yang membuatku terheran-heran.”
“Kau tak pernah mendengar cerita tentang orang yang telah membunuh 99 orang lalu ketika hendak menggenapkan 100 orang ia tobat, tapi sebelum ia mewujudkan niatnya dengan perbuatan ke 100 ia keburu mati. Malaikat pun menghitung langkahnya, ternyata ia lebih dekat pada perbuatan baik maka ia pun dimasukkan ke surga. Begitu pula kisah seorang pelacur yang telah menolong seekor anjing kehauasan, maka karena kebaikannya itu terhapuslah dosa-dosanya.”
“Ah!” Ali hanya mendesah. Mungkin terpana, mungkin pula tak percaya.
PINTU TObat terbuka setiap saat…………. Kecuali kalau sudah mati.